Ds. saya merupakan Ds. wirausaha karena begitu banyaknya pengusaha batik di daerah saya bahkan daerah saya bisa di sebut dengan kampung wisata batik. ok sebelumnya udah ada yang tau tentang arti dari kata batik? semoga ada hehe, kalau begitu saya akan mencoba untuk menjelaskan tentang batik.

kata “Batik” berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa yaitu “amba” artinya menulis dan “nitik” artinya membuat titik. Batik adalah kain bergambar yang merupakan warisan hasil ekspresi budaya nenek moyang Indonesia dengan cara menulis dan menerakan malam, bermakna simbolis dan bernilai estetika tinggi sehingga menjadi jati diri atau karakter bangsa.
Sebutan
Batik Trusmi karena asal batik ini dari Desa Trusmi Kecamatan Plered Kabupaten
Cirebon Provinsi Jawa Barat. Kata “Trusmi” pada desa ini berasal dari kalimat
terus bersemi. Secara administratif desa yang dimaksud saat ini adalah Desa
Trusmi Wetan dan Desa Trusmi Kulon.
Batik
Cirebon termasuk golongan Batik Pesisir dan sebagian golongan Keraton. Dua buah
keraton di Cirebon yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman ini berdasarkan
sejarah telah memunculkan beberapa desain batik Cirebonan Klasik yang masih
dikerjakan oleh sebagian masyarakat desa Trusmi hingga sekarang yaitu
diantaranya adalah motif Mega Mendung, Singa Payung, Singa Barong, Paksinaga
Liman, Patran Kangkung, Patran Keris, Ayam Alas, Banjar Balong, Simbar
Menjangan, Simbar Kendo, Sawat Penganten, Gunung Giwur, Katewono, dan
lain-lain. Motif Mega Mendung inilah yang merupakan andalan Batik Trusmi
diantara motif lainnya. Mega Mendung adalah sebuah motif berbentuk seperti
awan.
Begitu
terkenalnya Batik Mega Mendung di mancanegara sehingga Pepin van Roojen seorang
berkebangsaan Belanda pernah menjadikan Batik Mega Mendung sebagai cover sebuah
buku atik berjudul Batik Design terbitan luar negeri. Keterkenalannya batik ini
juga membuat Turki kepincut oleh pesonanya dengan melakukan klaim. Peristiwa
tersebut menjadi pemberitaan beberapa media massa di awal tahun 2015 yang salah
satunya adalah TEMPO dengan memuat berita berjudul “Heboh, Batik Megamendung
Diklaim Turki”. Dalam berita ini diceritakan bahwa beberapa hari sebelumnya
telah ditemukan blouse batik Mega Mendung Cirebon berlabel baju Turki Limited
Edition di butik Mark Spencer Champ Elysees Paris. Peristiwa ini menyebabkan
ramainya pembicaraan para netizen di media sosial seperti Path, Facebook, dan
Twitter. Para netizen merasa sedih dan geram atas klaim bangsa asing yang kali
ini adalah Turki terhadap Batik Mega Mendung sebagai warisan budaya Indonesia.
Selain itu merekapun termotivasi terus berupaya untuk mensosialisasikan atau
mempromosikan produk Indonesia supaya warga dunia tahu, melestarikan dan
mendukung pemerintah Pemerintah Republik Indonesia untuk melaporkan Paten Batik
Megamendung yang di Klaim oleh Turki.
Beberapa hal
penting yang merupakan keunggulan atau juga ciri khas Batik Cirebon bernuansa
klasik tradisional adalah sebagai berikut :
a. Pada bagian-bagian sesuai dengan motif utama
tertentu terdapat unsur ragam hias berbentuk awan atau mega juga selalu
menggunakan motif berbentuk wadasan atau batu cadas. Sedangkan pada ragam hias berbentuk tanahan
atau rentesan (tanaman ganggeng) bagian dasar atau latar kainnya sebagian
dibiarkan kosong atau tanpa diisi. Pada batik-batik Pekalongan biasanya
menggunakan ragam hias tanahan atau rentesan ini.
b. Garis-garis motif bergaris tunggal dan
tipis, berwarna garis lebih tua dibandingkan dengan warna dasar atau latarnya.
Hal tersebut terjadi karena batik Cirebon unggul dalam proses penutupan
(blocking area) menggunakan canting khusus dan bleber yang terbuat dari batang
bambu dengan bagian ujung diberi potongan benang-benang katun tebal yang
dimasukkan pada salah satu ujungnya.
c. Biasanya
warna-warna dominan memiliki warna kuning (sogan gosok), warna hitam, merah
tua, biru tua pada warna dasar kain
seperti krem atau putih gading.
Khusus
kelompok batik Cirebonan Pesisiran, pada perkembangan masa sekarang mempunyai
ciri yang berbeda dengan sebelumnya. Dengan karakteristik masyarakat pesisiran
yang umumnya berjiwa terbuka sehingga mudah menyerap pengaruh budaya asing dari
orang pendatang yang ada di daerah sekitar pelabuhan. Keberadaan orang asing
atau pendatang ini singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan antar etnis yang
berbeda (asimilasi). Dengan kondisi masyarakat seperti itu, jenis Batik Cirebon
yang satu ini lebih cenderung pada pemenuhan komoditas perdagangan dan
komersialitas atau dalam arti lain bisa mengikuti dan memenuhi selera pembeli
atau konsumennya dari berbagai daerah. Wujud dari Batik Cirebon yang
dipengaruhi pendatang tersebut terlihat dari warna-warna batik Cirebonan
Pesisiran sekarang ini lebih atraktif dengan berbagai banyak warna terang dan
cerah serta motif-motif khas pesisir dalam bentuk ragam hias yang bebas hasil
perpaduan antara bentuk-bentuk flora beraneka rupa dengan unsur binatang yang
mampu memikat para penggemarnya.
United
Nations Educational, Scientific and Cultural Organization disingkat UNESCO yang
merupakan Badan PBB untuk kebudayaan pada tanggal 2 Oktober 2009 telah
memberikan pengakuan dengan menetapkan batik sebagai “Masterpieces of The Oral
and Intangible Heritage of Humanity” atau dalam artinya adalah Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan
Nonbendawi serta sekaligus menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Batik
Sedunia.
Atas dasar
hal tersebut di atas, merupakan suatu kebanggaan karena pemerintah telah
menetapkan setiap tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Tidak hanya
penggunaan batik sebatas pada tanggal tersebut, pemerintahpun telah
mengeluarkan kebijakan melalui adanya Permendagri No. 60 Tahun
2007 yang
kemudian dilanjutkan dengan adanya perubahan pertama melalui Permendagri No. 53 Tahun
2009. Dalam
kedua peraturan tersebut tadi, Kementerian Dalam Negeri menetapkan salah satu
pakaian dinas harian yang disingkat PDH yaitu jenis Batik bagi Pegawai Negeri
Sipil yang bekerja di lingkungan Departemen Dalam Negeri dan PDH jenis Batik
dan/atau tenun ikat dan/atau kain ciri khas daerah bagi Pegawai Negeri Sipil
yang bekerja di lingkungan Pemerintah Daerah yakni Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota untuk digunakan pada setiap hari Kamis dan Jum’at.
Selain itu, banyak pula orang secara sukarela atau tanpa ada pihak yang
mewajibkannya dengan merasa bangga mengenakan batik.
Bagi yang
berminat mendapatkan Batik Trusmi khas Kabupaten Cirebon maupun berkeinginan
untuk mengetahui proses pembuatan bahkan hingga ikut belajar dalam proses
pembuatannya di sebuah Sanggar Batik, anda bisa langsung menuju “Desa Batik” di
Desa Trusmi Wetan dan Desa Trusmi Kulon Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon
Provinsi Jawa Barat. Dari berbagai arah kesemuanya berujung dengan mencari
plang atau papan informasi bertuliskan “Objek Wisata Belanja Batik Trusmi”.
Bagi
pengguna kendaraan pribadi :
Dari arah
barat seperti Jakarta maupun Bandung : selepas dari sekitar pintu keluar tol
Palimanan bisa mengarahkan kendaraannya ke arah timur menuju ke Plered. Waktu
tempuh dari sekitar pintu keluar tol Palimanan menuju Plered dalam kondisi
normal/lancar kurang lebih 10 menit.
Dari arah
timur seperti Surabaya dan Semarang : melewati Kabupaten Brebes Propinsi Jawa
Tengah yang merupakan perbatasan dengan Provinsi Jawa Barat bisa melanjutkan ke
arah barat menuju jalan layang Pegambiran kemudian melewati Terminal Bus
Harjamukti Kota Cirebon, daerah Kedawung menuju ke Plered. Waktu tempuh dari
perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat menuju Plered dalam kondisi normal/lancar
kurang lebih 45 menit.
Bagi
pengguna alat transportasi umum :
Pengguna
Kereta Api Kelas Bisnis dan Eksekutif dari arah Jakarta maupun Surabaya :
Berhenti di Stasiun Kereta Api Kejaksan Kota Cirebon, Jl. Siliwangi bisa dilanjutkan
dengan menggunakan Angkutan Kota atau Angkot dengan kode D-7 dan D-8 turun di
Jl. Kedawung (kurang lebih 10 menit dan tarif Rp. 4.000 jauh dekat) selanjutnya
disambung dengan menggunakan Angkot dengan Kode GP langsung menuju Plered
(kurang lebih 10 menit dan tarif Rp. 4.000 jauh dekat).
Pengguna
Kereta Api Kelas Ekonomi dari arah Jakarta maupun Surabaya : Berhenti di
Stasiun Kereta Api Prujakan di Jl. Nyimas Gandasari selanjutnya menggunakan
Angkot dengan Kode GP langsung menuju Plered (kurang lebih 20 menit dan tarif
Rp. 4.000 jauh dekat).
Pengguna Bus
Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) maupun Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dari
berbagai kota asal dengan tujuan Terminal Bus Harjamukti Kota Cirebon : dengan
tarif kurang lebih Rp. 5000 an dari terminal bus ini bisa melanjutkan kendaraan
umum seperti minibus / elf jurusan Cirebon-Kadipaten, bus jurusan
Cirebon-Indramayu atau bus-bus jarak jauh AKAP dan AKDP seperti Jurusan Bandung
maupun Jakarta. Yang terpenting adalah meminta kepada kondektur untuk diturunkan
di lokasi “Desa Batik” hingga terlihat plang atau papan informasi bertuliskan
“Objek Wisata Belanja Batik Trusmi”.
Nah, selamat
mengunjungi Objek Wisata Belanja Batik Trusmi. Sebelum atau setelah Sahabat
berwisata belanja batik, sempatkan pula mampir ke objek wisata kriya yaitu
Sentra Usaha Kerajinan Rotan Terbesar di Indonesia yang lokasinya tidak jauh
dari Kecamatan Plered yaitu di Desa Tegalwangi Kecamatan Weru serta berwisata
kuliner untuk mencicipi dan menghilangkan rasa lapar Sahabat dengan makanan
khas Kabupaten Cirebon yaitu Empal Gentong di Desa Battembat Kecamatan Tengah
Tani.



0 komentar:
Posting Komentar